Rinai Yang Jatuh

 


Wilda Ajeng Mustofa

XI MIPA 1/34

            Langit adalah kelam. Kata bukanlah bagiannya melainkan kristal bening kasat mata yang dipilihnya. Ia berlari dari dirinya sendiri, tanpa tujuan hingga akhirnya menyerah, dalam penyesalan. Semesta seolah mempermainkan. Terkadang melihat orang lain berjalan dengan mimik yang berbunga bunga, entah bagaimana aslinya,  bisa membuat sekitarnya menjadi bahagia. Seperti bunga dan lebah yang saling menyapa. Semoga itu berlaku untuk Sang kelam. Takdir berjalan, jemari mungil itu siap mengetuk dan merengkuh. Sosok yang menghangatkan. Tapi lagi, untuk kesekian kali sang kelam menyerah, membiarkan takdir berjalan. Entah bahagia atau malah menyiksa.

 

---

 

            Pagi ini Sang Surya masih malu-malu. Namun tidak peduli pagi, siang atau malam, bukan Jogja namanya kalau tidak banyak pelanggan. di rentetan kendaraan yang merayap itu, Langit  menggumam pelan kapan jalanan padat ini melonggar. Dengan sabar yang sangat terpaksakan,akhirnya Langit menemukan celah. Sekali hentakan, ia membelokkan kuda besinya berjalan ke arah pantai. Berusaha menghilangkan gemuruh dadanya. Budenya selalu saja membuat Langit bertambah kesal, bayangkan saja ia disuruh belanja dipasar dan  tidak ada kata bantah. Belum selesai masalah dengan Mega, malah budenya yang berulah. Walau begitu budenya adalah penganti orang tuanya di sini, jadi Langit harus nurut.

Seolah tak peduli pada angkasa yang meredup dan jingga mega yang berbentang. Nyanyian ombak pun tak mampu mengusir bising kepalanya. Diliriknya jam tangan yang bertengger manis di tangan kirinya, barulah ia sadar dari lamunan.

 “ Maaf...” bisiknya pada angin. Berharap angin menyampaikan pesannya. Getaran di saku celana membuatnya beralih pada ponsel tersebut .“ Halo..” jawabnya malas. “ Langiiit kamu ini belanja apa semedi sih? Lama tau nggak, pulang gih.” Ucap bude di sebrang sana. “iyaa Bude ini pulang kok”.

            Sesampainya di rumah dan meletakkan belanjaan titipan bude di meja dapur, wajah Langit masih terlihat murung. Budenya hanya menatap Langir iba. Sebagai rumah kedua bagi Langit, ia paham betul apa yang dirasakan keponakannya. “ Bude tadi nyuruh kamu belanja keluar biar kamu nggak murung-murungan gini, Bude capek, kudu piye maneh to le Bude lek ngomongi awakmu". Sepersekian detik Bude menatap Langit, kemudian beliau berucap. "Beneran nggak mau ketemu lagi sama Mega?” tanya budenya hati-hati.

“Aku keluar lagi bude.” pamit Langit sambil berjalan ke luar. Budenya hanya bisa menghela napas melihat tingkah Langit. Untung saja sayang, kalau tidak, mungkin sudah dari dulu Langit sudah jadi gelandangan tanpa membawa barang secuilpun. Budenya tidak habis pikir lagi dengan Langit.

            Tujuan Langit kali ini adalah taman. Dadanya menghangat melihat anak-anak bermain tanpa kesedihan. Lampu-lampu yang menyorot mereka membuatnya tampak manis. Untuk beberapa waktu ia sadar, ia tak sendirian. Mau sekeras apapun ia mencoba tidak akan ada habisnya. Saat ingin melangkahkan kaki pergi dari taman, tak sengaja mata Langit menangkap siluet yang berusaha ia hilangkan dari ingatannya. Ya, Mega ada di sini. Dan saat itulah, Langit kembali luruh. Seperti disiram air dingin di tengah padang pasir, ia menatap Mega penuh kasih, namun raganya masih memperlihatkan keangkuhan.

“Langit setidaknya dengarin aku dulu.” Nada penuh harap keluar di bibir Mega. Sejujurnya mereka merasakan kesakitan yang sama. Menggores-gores hati keduanya. Hanya garis lurus di bibir Langit yang nampak.

“Kamu egois Ga, karena kamu terluka, kamu merasa orang lain juga harus merasakan luka yang sama? Karena kamu terluka kamu bebas menyakiti siapapun? Padahal itu hanya pikiran orang-orang egois.” ucap Langit dengan seringai di wajahnya. Mendengar Langit, tenggorokan Mega seketika tercekat.

“Maka dari itu aku akan minta maaf, aku akan meminta beribu-ribu maaf dari kamu” isak Mega pilu. Bertepatan dengan itu, gerimis menyapa mereka bengis. Langit tidak tahan lagi, “Kamu pikir dengan maaf dari kamu itu, bakal sembuh berapa lama?! Harusnya kamu sadar Ga, nggak semua masalah di hidup kamu diterima oleh orang lain hanya dengan begini!”.

Mereka kembali hanyut dalam tetesan rinai di sana. “ Untuk itu aku usaha Langit!” Teriakan Mega bercampur gemuruhnya air hujan. “ Dan ada banyak usaha yang bisa mengkhianati hasil Mega! Kamu cuma melakukan hal yang nggak berguna. Sia-sia. Ngerti?!”. Ada belati dalam setiap diksi yang keluar dari mulut Langit. Terlalu tajam hingga Mega merasa terhunjam dalam. Mega hanya bisa menunduk tidak mau jika Langit melihatnya semakin lemah.

Entah bagaimana Langit kembali berucap. “Api terlanjur datang dengan seribu luka bakar. Atau bahkan milyaran? Bukankah percuma mengobatinya, tidak kah kamu lelah berusaha menyembuhkannya?". Mega kembali menatap langit, “Aku cuma mau memperjelas! Apa salahnya? Setidaknya aku nggak lari dan lupain semuannya seolah kejadian itu nggak pernah terjadi. Dan lihat! Kamu bilang apa? usahaku sia-sia? Kamu benar-benar sama aja seperti semua orang Langit!”

Sesak di dada Mega semakin pekat “Sekali aja Lang, aku menunggu, sakit rasanya, udah lama aku merasakan sendirian. Maaf...dengan tulus aku minta maaf. Maaf karena terlambat sadar kalau kamu juga pasti lelah untuk lebih lama menunggu. Seandainya kamu bilang dari awal mungkin aku akan memilih sama kamu.” Mega sudah tumbang tanpa penopang.

“Langit, Kelammu masih begitu pekat, seperti nggak ada warna yang cukup pantas tergores disana. Tak terkecuali warna yang aku punya. Aku nyerah Lang. Kamu benar.”

Langit diam menatap Mega yang lemah diatas aspal “Mega, kamu pernah datang dengan tawa hanya untuk pergi dan meninggalkan air mata.” Langit berseru dalam hati, tidak tahukah gadis itu bahwa dialah warna yang tak pernah Langit duga akan bisa ia terima dengan mudahnya.

Mega tidak tahu bagaimana linu sempat meruntuhkan egonya. Jika saja air mata gadis itu tidak jatuh, mungkin Langit benar-benar sudah runtuh, tanpa ada pura-pura. Jika saja Mega tahu betapa sulitnya Langit menahan diri untuk tidak merengkuhnya.

            Namun, waktu telah menentukan alurnya. Langit kembali menjadi Langit. Apa yang ia rasa hanyalah rahasia. Bebannya akan ia simpan dan ditutupi dengan sikapnya. Dengan itu lukanya terlihat seperti tidak ada dan semuanya kembali menjadi rahasia. Mega bangkit dan menyodorkan sebuah benda yang tampak tak asing bagi Langit.

“Jaga baik-baik ya. Seperti kita yang tidak berakhir bersama, setidaknya cincin ini ada sebagai tanda kamu memiliki aku, seorang yang kamu buat jatuh cinta. Setidaknya cincin ini akan ada selamanya, tidak seperti kita yang berakhir begitu saja.”

Mega tersenyum, dengan air kristal yang luruh dari sudut matanya. Langit hanya bisa diam, bibirnya terkatup rapat menggenggam cincin yang pernah mengikat keduanya. Matanya menatap lekat tubuh gadis yang senantiasa berada diguyuran rinai malam dengan tubuh bergetar hebat. Andai bisa, Langit akan mengatakan semua baik-baik saja dan memeluknya walaupun ia bertindak sebaliknya. Bagai daun kering yang siap gugur oleh angin yang menerpa. Langit runtuh saat gadis itu kembali bersuara.

“Semoga kamu tetap simpan kenangan kita. Aku pamit.” Dan selanjutnya, Mega memilih pergi dari hadapnya.

Detik terasa terhenti dan Langit kembali jatuh bersama hujan untuk kesekian kalinya. Kenapa satu-satunya cara melindungi orang yang ia cintai, adalah dengan menyakitinya?. Egonya terlalu besar dalam menghadapi masalah. Baik Mega maupun dirinya, mereka sedang berada disituasi yang sulit. Langit tidak tahu kapan itu akan berubah tapi yang pasti semua berawal dari diri sendiri. Maka Langit akan mencoba sekuatnya untuk bertahan dalam setiap kehancuran yang dilaluinya. Karena hanya kerang yang terlukalah yang mendapatkan mutiara. Dengan ini Langit berbisik pada hujan agar tidak menyakiti Mega nya. Masih pantas kah Langit menganggap Mega sebagai miliknya?. Semua sudah berjalan sesuai porsi mereka.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perubahan Budaya Nusantara

Resensi Novel Petjah