Resensi Novel Petjah
Oleh : Wilda Ajeng Mustofa (XI MIPA 1/34)
Judul Buku : Petjah
Pengarang : Oda Sekar Ayu Issuningtyas
Penerbit : Elex Media Komputindo
Tahun Terbit : 2017
Tebal Halaman : 314 Halaman
Ukuran Buku : 12.5 cm x 19.5 cm
Gambar : Ilustrasi perempuan memegang payung dengan guyuran air hujan
Buku ini merupakan karya Oda Sekar
Ayu Issuningtyas, lahir di Jakarta, 19 April 1995. Karena namanya terlalu
panjang, dia lebih suka menyingkat namanya menjadi Oda Sekar Ayu. Oda berhasil lulus
SMA hanya dalam 2 tahun, selain itu dia juga menyukai pelajaran kimia dan
biologi. Latar belakang Oda Sekar Ayu yang notabennya lulusan kelas akselerasi
membuat nya menjadi lebih bisa menghidupkan cerita. Seperti tentang ujian yang
sering dilakukan oleh kelas akselerasi. Lingkungan pengarang yang tinggal dan
lahir di Jakarta juga mempengaruhi cara menulis novel ini. Lingkungan nya yang
metropolitan itu membuat lebih hidup keadaan lingkungan yang hampir sama dengan
lingkungan yang ada di sekitar Oda Sekar Ayu.
Buku ini bertema romansa cinta remaja. Buku ini menceritakan bahwa seorang gadis remaja yang sedang jatuh cinta kepada seseorang yang membencinya. Tema yang diusung memang klise, namun Oda Sekar Ayu mampu mengolah tema tersebut menjadi cerita yang sangat menarik. Oda Sekar Ayu juga menyisipkan beberapa bumbu bumbu untuk membuat ceritanya lebih menarik. Seperti menambahkan konflik masa lalu yang berakibat pada kisah cinta tersebut.
Nadhira menyayangi Dimas, tetapi
Dimas membenci Nadhira. Semesta menyayangi Nadhira dan memberinya satu
permintaan untuk dikabulkan. Nadhira meminta Dimas beserta hatinya. Permintaan
pun dikabulkan semesta. Kemudian hadir satu orang lagi dalam permainan ini.
Biru. Biru menyayangi Nadhira, namun bisakah Nadhira menyayangi Biru?
Satu dari seribu, aku mau kamu. Adalah
puisi hati Nadhira untuk cinta pertamanya.
Satu dari seribu, memang harus kamu. Adalah sepenggal puisi harapan Biru untuk masa depannya. Semesta mempermainkan Nadhira dan membuat hidupnya petjah.
Petjah adalah buku jenis teen fiction karena menceritakan tentang remaja SMA. Nadhira, Biru, dan Dimas adalah tokoh utama di novel ini. Novel ini tidak hanya mengusung genre percintaan remaja, karena sejujurnya saya lebih melihat kepada tema persahabatan dan kekeluargaan. Novel ini merupakan novel debut dari Oda Sekar Ayu, untuk novel debut menurut saya novel ini dapat dikatakan berhasil, karena novel ini memiliki tema yang kuat, alur cerita yang jelas, karakter tokoh yang juga kuat, serta akhir cerita yang tidak mudah ditebak. Penulis berhasil menyajikan konflik cerita yang cukup kompleks untuk seukuran anak SMA dan memberikan penyelesaian yang baik.
Penggunaan bahasa yang digunakan oleh penulis memang berubah-ubah, kadang menggunakan aku, saya, dan bahkan juga sering menggunakan bahasa gaul gue - lo. Bagi saya sih tidak terlalu bermasalah, toh saya tetap bisa menikmati membaca novel ini. Penulis biasanya akan menggunakan kata saya-kamu ketika terjadi percakapan antara Nadhira dengan Biru, sedangkan penulis akan menggunakan bahasa gaul saat Nadhira sedang bersama dengan teman-teman di sekolahnya. Ada juga beberapa istilah gaul ala anak sekolah yang digunakan oleh penulis, tetapi pembaca tidak perlu takut salah memahami, karena ada catatan kaki yang disediakan, sehingga tidak akan membuat bingung.
Tetapi saya agak tidak suka dengan sikap Nadhira di pertengahan cerita, karena dia terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri, mengabaikan Dimas yang sebenarnya selalu ada dan bersedia meluangkan waktu untuk Nadhira ditengah obsesi Dimas untuk mengejar masa depannya. Selain itu, saya juga menemukan beberapa typo di novel ini, bagi saya tidak terlalu mengganggu dan masih tahap wajar karena memang ini cetakan pertama, semoga di cetakan selanjutnya dapat diperbaiki.
Tokoh utama terbagi menjadi 3 orang, yaitu; Nadhira digambarkan sebagai seorang mruid perempuan yang menyukai dunia bahasa, mudah bergaul, dan ceria. Dimas digambarkan sebagai seorang murid laki-laki yang pintar, sangat idealis dalam segala hal, tetapi memiliki berkepribadian santai, dan asyik untuk diajak berteman. Sedangkan, Biru digambarkan sebagai sosok murid laki-laki yang bertolak belakang dengan Dimas. Biru ini tipe-tipe bad boy kalau disekolah, digambarkan sebagai seorang perusuh di sekolah dan suka tawuran, tapi sebenarnya Biru memiliki kemampuan yang luar biasa di bidang sastra. Selain tiga tokoh utama tersebut, banyak juga tokoh-tokoh lainnya seperti Mira, Bram, Kak Utha, dan lainnya. Tokoh-tokoh ini memberikan warna tersendiri di dalam cerita, dan berhasil mempertahankan karakter serta ciri khasnya masing-masing, sehingga membuat suasana persahabatan semakin terasa kuat.
Novel ini tidak hanya terfokus pada romansa dari ketiga tokoh utama saja, novel ini juga berhasil menyajikan kehidupan para murid dari kelas akselerasi yang dikejar oleh target belajar yang cukup ekstrem demi memenuhi target pembelajaran mereka. Apakah novel ini mengisahkan cerita tentang kisah cinta segitiga anak SMA? Menurut saya sih tidak, sejujurnya tidak terlalu terlihat kisah cinta segitiganya, membaca novel ini seolah mengajak pembaca untuk menemukan jati diri seorang Nadhira.
Saya suka sekali chemistry antara
Nadhira dengan Dimas, maupun Nadhira dengan Biru. Saya menikmati setiap
percakapan ala Einstein yang terjadi antara Dimas dengan Nadhira, dan juga
sangat menikmati rangkaian puisi demi puisi yang diciptakan oleh Nadhira dan
Biru dalam mengisi setiap percakapan yang terjadi antara mereka. Kedua hal ini
menjadi kelebihan utama bagi novel ini. Novel ini tidak akan membuat pembaca
jenuh, karena banyaknya rangkaian kata-kata yang unik sekaligus indah.

Komentar
Posting Komentar